3.12.2011

Rokok Dinyatakan Kesehatan ?

Judulnya memang klinik kesehatan. Namanya, Klinik Balur Gretha Zahar. Uniknya, di klinik itu sama sekali tidak ada rambu peringatan dilarang merokok. Sebaliknya, para pasien malah dianjurkan untuk merokok. Penelope Borden, misalnya. Perempuan berusia 68 tahun ini, kedapatan sedang asyik mengisap sebatang rokok kelobot hasil lintingan sendiri. ''Saya punya mesin pelinting sendiri di rumah, tapi besar, tidak bisa portable," kata warga negara Amerika Serikat itu.

Penelope bercerita, ia sebenarnya berhenti merokok sejak delapan tahun lalu. Tetapi kini Penelope harus mengisap rokok lagi demi menyembuhkan penyakit kanker tulang yang ia derita sejak 2001. Penelope mulai berobat di klinik Dr. Gretha Zahar sejak Juni 2009. "Banyak teman yang merasa heran melihat pengobatan yang saya jalani ini. Mereka tidak bisa mengerti," katanya, lalu mengembuskan asap rokok.


Penelope banting setir ke pengobatan dengan rokok lantaran sudah putus asa dengan berbagai jenis pengobatan yang ia tempuh selama ini. Mula-mula, ia menderita penyakit kerapuhan tulang (osteoporosis). Untuk menyembuhkannya, Penelope berobat di sebuah klinik di Los Angeles. Ia diterapi dengan meminum pil Actonel per minggu. Actonel adalah salah satu pil anti-osteoporosis yang banyak diresepkan di klinik-klinik di Amerika.


Setelah menjalani terapi pil selama delapan tahun, bukannya kesembuhan yang ia dapatkan. Penyakitnya malah makin memburuk. Pada 2009, ia pun divonis menderita kanker tulang. "Saya kehilangan tulang (bone loss) di tulang belakang. Badan saya jadi bungkuk," tuturnya.


Penelope mengaku sempat mengalami depresi. Apalagi, dokter mengatakan, pengobatan yang diberikan prinsipnya hanya memperlambat, tapi tidak bisa menyembuhkan kanker tulang yang ia idap. Lalu seorang kawan menganjurkannya untuk melakukan terapi di klinik Dr. Gretha.


Pada Juni 2009, Penelope mulai mengikuti terapi balur yang dikombinasikan dengan terapi mengisap rokok yang disebut divine cigarette. "Masalahnya, dokter juga bilang tidak bisa menyembuhkan. Jadi, kenapa tidak?" dia beralasan.


Penelope mengklaim bahwa terapi itu mulai menunjukkan hasil. Ketika ia diperiksa di Amerika Serikat, ketahuan bahwa kepadatan tulang (bone density)-nya berkurang. Anehnya, dia malah merasa lebih baik. "Saya merasa jauh lebih baik sekarang. Tidak sakit lagi kalau duduk, dan punggung tidak bungkuk," katanya.


Seperti Penelope, Verawati, 45 tahun, juga memilih menjalani terapi merokok di sebuah klinik Rumah Sehat di Jalan Surakarta, Malang, Jawa Timur. Klinik yang beroperasi sejak 2007 itu dikelola Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas Malang. ''Sudah habis tiga batang,'' kata Verawati kepada Gatra. Dalam sehari, setidaknya ia menghabiskan 10-14 batang rokok, bahkan lebih.


Verawati, yang sebenarnya bukan perokok, menjalani terapi merokok untuk menyembuhkan kanker kolorektal atau kanker usus besar yang diidapnya sejak tiga tahun silam. Berbagai terapi telah ia jalani untuk mengusir penyakit itu, tapi tak kunjung sembuh. Ia masih sering mengalami nyeri yang amat sangat di perutnya. Tidak hanya itu. Ia juga mudah lelah.


Oleh dokter, Verawati disarankan menjalani operasi usus besar. ''Saya takut operasi,'' tuturnya. Karena itu, ia memutuskan mencari pengobatan alternatif dan mengabaikan saran dokter yang menanganinya. Atas saran seorang teman, ia pun menjalani pengobatan dengan rokok. Sebelum pengobatan dimulai, kata Verawati, setiap pasien diminta melakukan tes laboratorium berupa tes darah lengkap dan tes rontgen dada.


Setelah menjalani terapi selama lebih kurang enam bulan, ibu dua anak itu merasa ada perkembangan yang baik. Rasa sakit seperti mual, nyeri yang amat di perut, dan lemas jarang terjadi lagi. ''Buang air besar saya mulai lancar,'' katanya. Rasa sakit ketika buang air besar juga sedikit demi sedikit berkurang. ''Memang belum sembuh total. Tapi semoga Tuhan memberikan kesembuhan lewat pengobatan ini,'' ia menambahkan.


Bagaimana rokok bisa membawa pada kesehatan?


Menurut si penemu terapi ini, Gretha Zahar, rokok buatannya yang diberi nama divine cigarette alias "rokok surgawi" itu (divine bisa berarti surgawi) memang istimewa. Jika rokok biasa mengandung merkuri yang bisa menyebabkan kanker, si-divine cigarette itu malah mengubah merkuri menjadi emas.


Caranya? Menurut Gretha yang ahli nano-kimia, senyawa merkuri memiliki satu perbedaan elektron saja dari aurum --nama kimia untuk emas. Karena itu, ia membuat sebuah senyawa asam amino yang mampu melepaskan satu elektron di merkuri agar berubah menjadi aurum. Asam amino itulah yang diteteskan atau diolah dengan tembakau pada rokok buatannya.


Dengan begitu, si merkuri yang telah berubah menjadi emas itu bisa bermanfaat untuk mengusir kanker. Selain diubah menjadi emas, asam amino tadi, kata Gretha, juga memperkecil gelembung-gelembung merkuri ke ukuran nano hingga lebih kecil dari ukuran pori-pori manusia. Dengan begitu, kandungan merkuri yang tersisa dalam tubuh akan dikeluarkan lewat kulit melalui pori-pori.


Lantas, bagaimana dengan kandungan emasnya di dalam tubuh? Gretha mengklaim bahwa itu tidak berbahaya. "Rambut saya, kalau diperiksa, ya, ada aurumnya," kata Gretha. Dengan bertambahnya kandungan emas dalam tubuh, kata dia, kulitnya malah lebih kencang dan mulus, meski usianya telah 72 tahun.


Secara umum, menurut Gretha, terapi rokoknya sama saja dengan terapi nano di dunia Barat. Bedanya, dalam terapi nano lainnya, merkurinya dibungkus sehingga tidak terserap tubuh tetapi tidak dikeluarkan. Karena itu, ia mengklaim, terapi anti-merkuri dengan divine cigarette lebih efektif, karena asap nikotinnya berbentuk gas dan lebih cepat meresap ke dalam tubuh.


Tak cuma berpromosi, Gretha juga mencoba sendiri rokok hasil ciptaannya itu. Selama diwawancara Gatra, ia terus merokok, bahkan menyuruh reporter dan fotografer Gatra untuk merokok. "Ayo, merokok saja, nggak apa-apa," katanya. Ia mulai mengisap rokok itu sejak ditemukan sekitar tiga tahun lalu. Ia mengaku bisa merokok 100 batang per hari.


Di brosur yang dibagikan kepada Gatra juga disebutkan, untuk mengecek apakah terapi divine cigarette itu bisa mengurangi kadar merkuri di dalam tubuh, bisa dilakukan pengujian ilmiah di laboratorium yang memiliki kemampuan mendeteksi merkuri. Yakni di Laboratorium Analisis Aktivasi Neutron Badan Tenaga Atom Nasional di Serpong.


Ketika ditanya soal tingkat keberhasilannya, Gretha mengakui bahwa tidak semua pasien yang berobat ke kliniknya bisa sembuh. "Tingkat keberhasilannya 60%," ujarnya.


Alasan serupa dikemukakan Saraswati, pengelola Rumah Sehat di Malang. Peniliti dari Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas Malang ini mengatakan, bahan seperti asam amino yang dikombinasikan dengan asap rokok mampu mengangkat berbagai logam berbahaya, seperti merkuri, dari tubuh manusia.


"Dengan lenyapnya radikal bebas dan merkuri di dalam tubuh, dengan sendirinya pasien akan cepat sembuh dari penyakit," kata Saraswati. Oleh sebab itu, metode ini dinyakini dapat menyembuhkan kanker, pelbagai penyakit dalam, dan penyakit lainnya.


Ia mengaku memiliki 32 jenis rokok yang bisa mengobati berbagai penyakit. Rokok nomor 5, misalnya, diklaim bisa mengobati diabetes dan tekanan darah tinggi. Sedangkan rokok nomor 19 untuk mengobati penyakit jantung, sesak napas, dan untuk penguat adrenalin. Rokok nomor 13 untuk mengobati penyakit gula, stroke, dan sebagainya.


Klaim bahwa rokok efektif untuk terapi itu jelas ditentang kalangan dokter.


Ahli penyakit paru sekaligus Ketua Divisi Ilmu Penyakit Paru, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Dokter Slamet Hariadi, tak percaya sama sekali dengan terapi rokok ini. "Asap rokok itu sumber racun, kok malah dibuat obat," ujarnya.


Menurut dia, di dalam rokok sedikitnya terkandung 4.000 bahan yang berbahaya. Jadi, klaim tentang terapi rokok itu tidak punya dasar yang kuat. Kalaupun telah dilakukan penelitian dan rokok yang dibuat tidak sama dengan rokok pada umumnya, ia tetap meragukan si "rokok surgawi" itu mampu menyembuhkan perbagai penyakit. "Tak semudah itu," katanya.


Lebih jauh, Dokter Slamet mempertanyakan bahan yang digunakan dan yang terkandung dalam rokok itu, juga proses dan metode penelitiannya. "Proses penelitiannya seperti apa? Bahan-bahan yang digunakan apa saja. Apa sudah pernah diuji pada binatang. Sudah berapa kali diuji coba dan bagaimana tingkat keberhasilannya," kata Dokter Slamet.


Di dunia kedokteran, sebelum obat diluncurkan, memang diperlukan penelitian yang lama. Prosesnya pun cukup panjang. "Tidak bisa sekali dua kali, lalu diberikan kepada manusia. Ini berkaitan dengan nyawa manusia," ujarnya. Ia menyarakan agar masyarakat tidak begitu saja percaya pada promosi seperti itu. "Sembuh belum tentu, merugi sudah pasti," ia menegaskan.





Jangan lupa dukung blog Raziq di Kontes TOP 1 Oli Sintetik Mobil-Motor Indonesia. Makasih yaa ^_^






WirausahaKontak Jodoh
Mobil BekasPasang Iklan Rumah


lintasberita

0 komentar:

Poskan Komentar